• Sun. Aug 14th, 2022

Institute

Mencerdaskan

Silaturahmi Bersama KKST di Ternate, Gubernur Tanamkan Rasa Bangga Jadi Warga Sultra

Di sela-sela kunjungannya ke Maluku Utara dalam rangka menghadiri pembukaan Seleksi Tilawatil Quran (STQ) Nasional XXVI 2021, Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Ali Mazi menggelar silaturahmi dengan warga Kerukunan Keluarga Sulawesi Tenggara (KKST) Maluku Utara di Kota Ternate, Jumat malam (15 Oktober 2021).

Gubernur Ali Mazi yang merupakan tokoh pendiri KKST didampingi oleh Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Sultra Basiran. Silaturahmi itu digelar di kediaman Ketua KKST Maluku Utara Muhaimin Syarif.

Dalam pertemuan yang berlangsung lebih dari dua jam tersebut, Gubernur banyak memberikan petuah dan nasehat kepada warga KKST yang hadir. Mengawali sambutannya, Gubernur merasa bangga dan bersyukur, karena warga KKST di Maluku Utara banyak berperan dalam pembangunan di provinsi yang dipimpin oleh Gubernur Abdul Ghani Kasuba.

Ketua KKST Muhaimin Syarif adalah Ketua Partai Gerindra Maluku Utara. Kakak kandungnya, Wa Zaharia, merupakan Kepala Dinas Koperasi dan UKM Maluku Utara. Selain itu, terdapat 13 orang bergelar doktor di Maluku Utara yang semuanya warga KKST.

“Hari ini, saya hadir dalam rangka kegiatan STQ sekaligus bersilaturahmi. Tentu ini suatu hal yang membahagiakan saya. Karena sudah tiga saya berkunjung ke sini, baru pada kesempatan ini dapat bersilaturahmi secara langsung dengan warga KKST,” kata Gubernur.

Gubernur lantas berkisah tentang sejarah terbentuknya KKST, yang awalnya bernama Badan Kontak Masyarakat Sulawesi Tenggara. Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Sultra di perantauan, kata Gubernur, nama itu harus diubah.

Di daerah perantauan, banyak kerukunan masyarakat Sultra, namun terpisah-pisah. Misalnya, kerukunan khusus untuk masyarakat dari Kendari, Buton, Muna, Kaledupa. Kerukunan yang berdiri sendiri-sendiri ini mengakibatkan warga Sultra terlihat kecil, padahal sesungguhnya besar.

Oleh karena itu, dengan terbentuknya KKST ini, diharapkan menjadi wadah untuk menumbuhkan kesadaran bahwa masyarakat Sultra adalah satu. Hal yang pertama dilakukan adalah menumbuhkan kesadaran untuk bangga sebagai masyarakat Sultra.

Kedua, kita harus membangun kesadaran bahwa warga Sultra itu besar. Masyarakat Sultra di tanah rantau harus bersatu, sebab jika tidak, kita tidak akan pernah besar.

“Kita harus berani menyebut diri kita orang dari Sultra. Kalau kebanggaan ini kita bawa, setiap ada event, pasti kita akan diperhitungkan. Kalau kita dianggap kecil, kita semakin hari semakin terbonsai terus,” kata Gubernur.

Ketiga, jangan malas. Jika ingin sukses di bidang apa saja, prinsipnya jangan malas. Tidak ada pejabat, pemimpin, atau pengusaha yang mau memperkerjakan dan berteman dengan orang yang malas.

Lebih jauh Gubernur memaparkan, saat ini patut berbangga karena dua putra daerahnya telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Pertama, Muhammad Yasin, seorang tokoh nasional yang lahir dan berdarah Buton, namun berkiprah di Surabaya, Jawa Timur, dan menjadi tokoh pendiri Brigade Mobil (Brimob), sebuah kesatuan elite di jajaran kepolisian.

Pahlawan nasional kedua yakni Oputa Yii Koo atau Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi, Sultan Buton ke-20, yang berjuang melawan penjajah Belanda.

Gubernur kembali mengingatkan agar seluruh warga Sultra di perantauan untuk membangun budaya kerja. Sesama kita tidak boleh saling iri dan dengki, namun harus saling mendukung.

Dalam dialog, Gubernur juga sangat mendukung gagasan KKST Maluku Utara yang hendak menggelar Tarian Malulo dengan memecahkan rekor Muri. Menurut Gubernur, itu merupakan salah satu cara untuk memperkenalkan budaya Sultra

H5P

Exit mobile version